Dan Brown

Dan Brown: Guru Bahasa dan Pemusik yang menjadi Penulis Profesional

Lulus dari Amherst College pada 1986, Dan Brown yang mengambil dua jurusan Bahasa Inggris dan Bahasa Spanyol, memilih berkarier di bidang musik, bereksperimen dengan sintesizernya, memproduksi CD, dan membuat perusahaan rekaman sendiri. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan.

Untuk melanjutkan karier bermusiknya, sulung dari tiga bersaudara itu meninggalkan New Hampshire, New York, pindah ke Hollywood, lantas menjadi penyanyi dan penulis lagu, mengikuti jejak idolanya, Barry Manillow. Hollywood mempertemukannya dengan Blythe Newlon yang kemudian menjadi istrinya. Di sela-sela keasyikannya bermusik, pria kelahiran 22 Juni 1964 itu sempat menulis sebuah novel berjudul Deception Point.

Setelah menikah, Brown kembali ke kampung halaman di New Hampshire pada 1993, dan menjadi guru Bahasa Inggris di almamaternya, sekolah bergengsi Phillip Exeter.

Di samping menjadi guru Bahasa Inggris, sang musisi ini juga mengajar Bahasa Spanyol di Lincoln Akerman School. Brown tidak hanya memiliki bakat musik dari sang ibu, Constantine Brown. Ayahnya, Richard G. Brown—seorang guru matematika yang menulis buku Advanced Mathematics: Precalculus with Discrete Mathematics and Data Analysis, sebuah buku teks pelajaran matematika yang bestseller—mewariskan bakat analitik.

Berbekal bakat analitik, selesai membaca novel Sidney Sheldon, Doomsday Conspiracy, ketika berlibur di Tahiti, Dan Brown berkomentar, “Aku bisa membuat cerita yang lebih seru dari novel ini!” Dan Brown membuktikan ucapannya. Dia langsung menulis novel berjudul Digital Fortress pada 1996, yang kemudian terbit pada tahun 1998. Selain menulis novel serius, Brown juga menulis dua novel humor, 187 Men to Avoid: A Guide for the Romantically Frustrated Woman dan The Bald Book, dengan nama pena Danielle Brown.

Keasyikan menulis novel membuat Dan Brown memutuskan berhenti mengajar dan memilih menjadi penulis profesional. Angel and Demons dan The Da Vinci Code pun lahir kemudian. Studi sejarah seni di Spanyol yang sempat diikuti Brown semasa kuliah membuatnya sangat tertarik mempelajari karya-karya Leonardo Da Vinci.

Anehnya, Dan Brown yang punya kebiasaan berdiri terbalik (kepala di bawah, kaki di atas, konon agar otaknya tidak beku sekaligus mendapat ide-ide gemilang) mengaku tak suka membaca novel. Alasannya, “Saya selalu bisa menebak ide si penulis dan mengetahui akhir ceritanya.”

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda akan bisa menebak ide Dan Brown dan akhir cerita novel terbarunya, The Lost Symbol ?

Situs resmi sang penulis

5 Tanggapan to “Dan Brown”

  1. I so Proud of you , sir🙂

  2. yeah, sulit ditebak. terjalin dengan begitu rapi. membuat kita berpikir bahwa dunia kita yang kelihatan sebenarnya berisi hal-hal yang tidak kelihatan🙂

  3. kok bisa membuat penelitian tentang sejarah masa lalu yang detail dan dapat dipertanggungjawabkan kaya gitu???????? salutttttttttttt

  4. Esoterik…Mesir Kuno…Pagan…Kabbalah…

  5. ravioholic Says:

    ga ada tandingan masalah keakuratan data sejarahnya..

    tapi, good for me, 4 dari 5 novel thriller (mengenyampingkan 2 lagi yang humor) dan brown selalu ketebak pelakunya sama saya🙂 *pamer*

    mulai dari William Pickering di Deceptions Point,
    Leigh Teabing di The Da Vinci Code,
    sampe Chamerlengo di Angels & Demons..
    juga direkturnya susan fletcher di digital fortress..

    tapi yang satu ini, the lost symbol, suer dah!! kaga kepikiran kalo Mal’akh itu rupanya Zachary Solomon!!

    So cool and twisting!!

    Four Thumbs up!!

    :-p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: